Sunday,01 November 2026
Renungan

Hari Raya Semua Orang Kudus, P. Domi K. Dheo SVD Serukan Pejuang Kemanusiaan Jangan Menyerah pada Ketidakadilan

Boni Antolan 01 November 2026 10:46 1 dibaca
Hari Raya Semua Orang Kudus, P. Domi K. Dheo SVD Serukan Pejuang Kemanusiaan Jangan Menyerah pada Ketidakadilan

OEBUFU – Perjuangan membela kemanusiaan tidak selalu berakhir dengan kemenangan. Ada kalanya mereka yang membela korban justru disalahkan, mereka yang menyuarakan keadilan berhadapan dengan fitnah, bahkan ketulusan pelayanan harus berhadapan dengan berbagai bentuk ketidakadilan.

Namun, kelelahan bukan alasan untuk berhenti memperjuangkan kebenaran

Pesan kuat inilah yang disampaikan P. Domi K. Dheo, SVD, Koordinator JPIC SVD Timor, dalam refleksi rohani memperingati Hari Raya Semua Orang Kudus, Minggu, 1 November 2026.

Melalui renungan bertajuk “Untuk Jiwa Pejuang Kemanusiaan yang Lelah: Angkat Kepalamu, Lihatlah ke Atas”, P. Domi mengajak para pejuang kemanusiaan untuk tidak kehilangan harapan, meskipun harus menghadapi penderitaan, penolakan, fitnah, dan ketidakadilan dalam perjalanan pelayanan.

Menurutnya, Hari Raya Semua Orang Kudus bukan semata-mata perayaan untuk mengenang orang-orang besar dalam sejarah Gereja. Lebih dari itu, perayaan ini menjadi pengingat bahwa kekudusan juga tumbuh dalam kehidupan orang-orang sederhana yang setia memperjuangkan kasih, kebenaran, dan martabat manusia.

“Para orang kudus mendorong kita dalam perjuangan hidup kita karena mereka juga mengalami perjuangan, bertumbuh dalam kelemahan, dan menjadi dewasa dalam Tuhan seiring bertambahnya usia,” demikian refleksi P. Domi.

Orang Kudus Adalah Mereka yang Setia dalam Perjuangan

Mengacu pada bacaan pertama dari Kitab Wahyu 7:2-4.9-14, P. Domi mengangkat penglihatan Rasul Yohanes tentang kumpulan besar orang banyak dari segala bangsa, suku, kaum, dan bahasa yang berdiri di hadapan takhta Anak Domba dengan mengenakan jubah putih.

Baginya, gambaran tersebut memberikan pesan bahwa kekudusan tidak hanya menjadi milik mereka yang dikenal, mendapat penghargaan, atau tercatat dalam sejarah Gereja.

Di balik kumpulan besar itu terdapat orang-orang sederhana yang menjalani kehidupan dengan penuh pengorbanan, termasuk mereka yang memperjuangkan hak-hak korban kekerasan, perdagangan orang, dan berbagai bentuk ketidakadilan sosial.

Ia mengajak para pejuang kemanusiaan untuk menyadari bahwa mereka tidak berjalan sendirian.

Ada begitu banyak orang yang sepanjang hidupnya berjuang dalam kesunyian, menanggung penderitaan, tetapi tetap setia pada kasih dan kebenaran.

Dalam refleksinya, P. Domi juga mengangkat realitas perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga, anak-anak migran yang menjadi korban perdagangan orang, serta para pejuang kemanusiaan yang kerap menghadapi penolakan ketika menyuarakan keadilan.

Pesannya jelas: jangan mengukur nilai perjuangan hanya dari pengakuan manusia.

Sabda Bahagia, Identitas Seorang Pejuang Kemanusiaan

Mengacu pada Injil Matius 5:1-12a tentang Sabda Bahagia, P. Domi menegaskan bahwa Yesus tidak menempatkan ukuran kebahagiaan pada kekayaan, kekuasaan, jabatan, maupun keberhasilan duniawi.

Sebaliknya, Yesus menyebut berbahagia mereka yang miskin di hadapan Allah, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hati, membawa damai, serta dianiaya karena kebenaran.

P. Domi melihat Sabda Bahagia sebagai gambaran spiritual kehidupan para pejuang kemanusiaan.

Mereka yang tetap membela korban ketika orang lain memilih diam, mereka yang tidak membalas fitnah dengan fitnah, serta mereka yang tetap memperjuangkan keadilan meskipun harus menghadapi berbagai tekanan, sedang menghidupi nilai-nilai Sabda Bahagia.

“Sabda Bahagia bukan puisi indah. Sabda Bahagia adalah profil orang kudus,” tegasnya dalam refleksi tersebut.

Ia mengingatkan bahwa perjuangan kemanusiaan harus tetap berakar pada kasih. Kebenaran tidak boleh diperjuangkan dengan kebencian, dan ketidakadilan tidak boleh dibalas dengan tindakan yang sama tidak adilnya.

Kekudusan, dalam perspektif ini, bukan berarti hidup tanpa kelemahan, melainkan kesediaan untuk terus bertumbuh dalam kasih dan kesetiaan kepada Tuhan.

Tujuan Akhir Bukan Kemenangan Duniawi, Melainkan Melihat Kristus

Melalui bacaan kedua dari Surat Pertama Rasul Yohanes 3:1-3, P. Domi mengajak umat merenungkan janji iman bahwa manusia kelak akan melihat Kristus dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.

Menurutnya, tujuan akhir perjuangan seorang pengikut Kristus bukan semata-mata memenangkan perkara, memperoleh penghargaan, atau mendapatkan pengakuan dari manusia.

Tujuan tertinggi adalah tetap setia kepada Kristus dan kelak mengalami persatuan dengan-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari, wajah Kristus dapat ditemukan dalam diri para korban, orang-orang kecil, mereka yang menderita, serta setiap manusia yang membutuhkan pembelaan dan kasih.

Karena itu, ia mengingatkan para pejuang kemanusiaan agar tidak membiarkan penderitaan dan kekecewaan membuat hati menjadi kering.

Pandangan harus tetap diarahkan kepada Tuhan, sumber kekuatan dan harapan.

“Jika kamu harus kalah di dunia karena mempertahankan kebenaran, biarlah. Asal kita tetap setia kepada Kristus dan kelak melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya,” demikian salah satu pesan kuat dalam refleksinya.

Panggilan Menjadi Kudus Dimulai Hari Ini

Menutup renungannya, P. Domi mengajak seluruh pejuang kemanusiaan untuk tidak berhenti menjadi pembawa kasih, sekalipun jalan yang ditempuh penuh tantangan.

Hari Raya Semua Orang Kudus harus menjadi momentum untuk memperbarui komitmen iman, memperkuat solidaritas, dan menghadirkan keberpihakan nyata kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan menjadi korban ketidakadilan.

Bagi P. Domi, menjadi kudus bukan hanya tentang menantikan kehidupan surgawi, melainkan tentang keberanian menghidupi kasih dalam kehidupan sekarang.

Sebab, perjuangan kemanusiaan sejati bukan sekadar berbicara tentang keadilan, tetapi juga menghadirkan keadilan melalui tindakan nyata.

“Berani menjadi kudus, berani menjadi pejuang yang mengarahkan pandangan ke Surga.”

Demikian pesan penutup P. Domi K. Dheo, SVD, dalam refleksi Hari Raya Semua Orang Kudus, 1 November 2026.

P. Domi K. Dheo, SVD
JPIC SVD Timor – Kasih Sin-Fronteras
Soverdi Oebufu, 1 November 2026

Berita Renungan Kembali ke Beranda
Chat via WhatsApp