Wednesday,28 October 2026
PERNYATAAN SIKAP & ADVOKASI JPIC SVD PROVINSI TIMOR

​Misi Digital Gereja Tak Cukup Mengejar Popularitas, SVD Tekankan Kebenaran, Etika, dan Perjumpaan Manusia

admin 09 October 2026 18:47 64 dibaca
​Misi Digital Gereja Tak Cukup Mengejar Popularitas, SVD Tekankan Kebenaran, Etika, dan Perjumpaan Manusia

KUPANG – Di tengah derasnya arus komunikasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan (AI), misi pewartaan Gereja menghadapi tantangan yang lebih mendasar daripada sekadar menguasai teknologi: menjaga kebenaran, merawat martabat manusia, dan membangun komunikasi yang menyentuh hati.

​Pesan tersebut mengemuka dalam hari kedua 𝑰𝒏𝒅𝒐-𝑳𝒆𝒔𝒕𝒆 𝑺𝒖𝒃𝒛𝒐𝒏𝒆 𝑴𝒆𝒅𝒊𝒂 𝒂𝒏𝒅 𝑪𝒐𝒎𝒎𝒖𝒏𝒊𝒄𝒂𝒕𝒊𝒐𝒏 𝑾𝒐𝒓𝒌𝒔𝒉𝒐𝒑 𝟐𝟎𝟐𝟔, hasil kolaborasi Serikat Sabda Allah (SVD) dan Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira), yang berlangsung di Kupang, Selasa (22/9/2026).

​Mengusung semangat Strengthening Digital Mission for Evangelization, lokakarya ini menempatkan media digital bukan semata-mata sebagai alat penyebaran informasi, melainkan sebagai ruang perjumpaan, dialog iman, dan pewartaan nilai-nilai kemanusiaan.

​Dalam refleksi misa harian di Kapela Sakramen Mahakudus Kampus Unwira, peserta diajak menyadari bahwa keberhasilan komunikasi tidak boleh diukur hanya dari jangkauan, popularitas, atau keuntungan. Komunikasi digital yang berakar pada iman harus bertumpu pada hati, integritas, kebenaran, dan pengalaman manusiawi yang autentik.

​Pesan utamanya jelas: teknologi dapat memperluas jangkauan pesan, tetapi kualitas komunikasi tetap ditentukan oleh kemampuan manusia untuk mendengarkan, memahami, dan menyentuh kehidupan sesamanya.

​𝗪𝗮𝘄𝗮𝗻𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝗷𝗶𝗹𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗵𝗼𝗿𝗺𝗮𝘁𝗶 𝗠𝗮𝗿𝘁𝗮𝗯𝗮𝘁 𝗠𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮

​Materi utama yang dibawakan P. Anthony Swamy Kannu, SVD, Koordinator Komunikasi Zona ASPAC, membahas wawancara dan penulisan naskah untuk penginjilan.

​Peserta diajak memahami bahwa wawancara penginjilan bukan sekadar aktivitas mengajukan pertanyaan dan menyampaikan jawaban. Proses tersebut merupakan dialog iman yang membutuhkan persiapan matang, tujuan yang jelas, kepekaan pastoral, serta penghormatan terhadap martabat narasumber.

​Persiapan dimulai dengan mengenali narasumber, memahami peristiwa yang dibahas, menentukan audiens, dan merumuskan tujuan wawancara. Pewawancara juga perlu menggunakan pertanyaan terbuka, menghindari pertanyaan yang bias, serta memberikan kesempatan kepada narasumber untuk menyampaikan pemikirannya secara utuh.

​Etika menjadi prinsip penting. Integritas, persetujuan narasumber, transparansi, dan penghormatan terhadap pengalaman pribadi harus dijaga, baik dalam wawancara langsung maupun melalui media digital.

​Dalam konteks pewartaan iman, dialog dinilai lebih bermakna daripada komunikasi satu arah yang berisiko berubah menjadi khotbah. Wawancara penginjilan bukan bertujuan memaksa perpindahan keyakinan, melainkan memberikan kesaksian, menginspirasi, dan mengundang orang untuk memperdalam relasinya dengan Tuhan.

​Materi tersebut juga menekankan pentingnya menyesuaikan teknik komunikasi dengan karakter setiap media. Radio membutuhkan artikulasi dan pengaturan intonasi yang baik, televisi menuntut perhatian terhadap ekspresi serta bahasa tubuh, sedangkan media digital memerlukan format yang sesuai, kualitas audio-visual, teks pendamping, dan interaksi yang jelas.

​𝗘𝗿𝗮 𝗔𝗜 𝗠𝗲𝗻𝘂𝗻𝘁𝘂𝘁 𝗧𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯 𝗘𝘁𝗶𝘀

​Perkembangan media digital membuka peluang besar bagi pewartaan Injil. Namun, jangkauan yang luas juga membawa tanggung jawab etis yang tidak dapat diabaikan.

​Risalah kegiatan tersebut menggarisbawahi pentingnya perlindungan martabat manusia dalam komunikasi pada era AI, sejalan dengan perhatian yang dikaitkan dengan Paus Leo XIV.

​Tantangan ini menuntut para komunikator Gereja untuk tidak hanya terampil memproduksi konten, tetapi juga mampu mempertanggungjawabkan pesan yang disebarkan. Kebenaran harus berjalan bersama kasih, sementara bahasa komunikasi perlu dibuat sederhana, inklusif, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan.

​Dengan pendekatan tersebut, media digital dapat menjadi ruang yang menghadirkan harapan, mempererat hubungan antarmanusia, serta membuka kesempatan bagi dialog yang lebih bermakna.

​𝗙𝗼𝘁𝗼 𝗱𝗮𝗻 𝗩𝗶𝗱𝗲𝗼 𝗛𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗠𝗲𝗻𝗰𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗶𝘀𝗮𝗵

​Selain materi wawancara, P. Ronald D'Silva, SVD, membahas keterampilan fotografi dan videografi untuk menghasilkan karya visual yang berkualitas dan bermakna.

​Peserta diperkenalkan pada sejumlah unsur teknis, mulai dari posisi tangan dan kaki, cara memegang peralatan, sudut pengambilan gambar, komposisi, fokus, hingga pengaturan sarana produksi foto dan video.

​Prinsip 𝑹𝒖𝒍𝒆 𝒐𝒇 𝑻𝒉𝒊𝒓𝒅𝒔, kesederhanaan komposisi, dan 𝑳𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈 𝑳𝒊𝒏𝒆𝒔 turut menjadi bagian dari materi.

​Namun, pesan yang menonjol bukan hanya soal teknik. Foto dan video harus mampu menceritakan sesuatu. Gambar yang baik bukan sekadar menarik secara visual, melainkan sanggup menyampaikan makna, menghadirkan suasana, dan membantu audiens memahami kisah di balik sebuah peristiwa.

​Dalam konteks misi Gereja, keterampilan visual menjadi bagian dari upaya menyampaikan pengalaman iman dan nilai kemanusiaan secara lebih komunikatif kepada masyarakat.

​𝗞𝗲𝘀𝗮𝗸𝘀𝗶𝗮𝗻 𝗛𝗶𝗱𝘂𝗽 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗣𝗲𝘀𝗮𝗻 𝗣𝗲𝘄𝗮𝗿𝘁𝗮𝗮𝗻

​Hari kedua lokakarya juga menghadirkan poin-poin wawancara dengan P. Salvator Towary, SVD, Sr. Marieta Ose Melburan, SSpS, dan Frederikus Tjeunfin, Sekretaris Paguyuban Soverdia TTU.

​P. Salvator Towary membagikan pengalaman panggilan hidupnya, termasuk perjalanan dari cita-cita menjadi guru hingga memilih jalan imamat. Ia menekankan pentingnya kedisiplinan, kejujuran, pelayanan kepada orang kecil, serta pengabdian kepada orang sakit.

​Ia juga mengingatkan bahwa setiap orang dipanggil untuk berbuat baik. Hati yang bersih dan damai, menurut pesan yang dicatat dalam risalah, dapat menyalurkan energi positif kepada sesama.

​Sementara itu, Sr. Marieta Ose Melburan menyoroti keberanian meninggalkan kenyamanan demi menjalankan misi Allah. Baginya, kehidupan di biara maupun di luar biara bergantung pada cara seseorang menjalani panggilan hidup, bekerja, berdoa, dan mewujudkan kasih.

​Adapun Frederikus Tjeunfin menceritakan pengalamannya mengenal Paguyuban Soverdia melalui kehidupan keluarganya yang dekat dengan para misionaris SVD. Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman pelayanan, doa, dan keteladanan dapat meninggalkan pengaruh dalam perjalanan hidup seseorang.

​Ketiga kesaksian itu memperlihatkan bahwa pewartaan tidak berhenti pada kata-kata. Pengalaman hidup, pilihan untuk melayani, dan tindakan nyata dapat menjadi pesan yang menginspirasi orang lain.

​𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗿𝗼𝗱𝘂𝗸𝘀𝗶 𝗞𝗼𝗻𝘁𝗲𝗻 𝗠𝗲𝗻𝘂𝗷𝘂 𝗣𝗲𝗿𝗷𝘂𝗺𝗽𝗮𝗮𝗻

​Rangkaian materi pada hari kedua memperlihatkan satu benang merah: keberhasilan misi digital tidak cukup ditentukan oleh kecanggihan perangkat atau kemampuan menghasilkan konten yang menarik.

​Persiapan yang baik, keterampilan teknis, etika komunikasi, dialog yang terbuka, serta kesaksian hidup harus berjalan bersama.

​Media digital memiliki potensi besar untuk menjangkau masyarakat lintas wilayah dan generasi. Namun, teknologi itu perlu digunakan secara bertanggung jawab agar komunikasi tidak kehilangan dimensi manusiawi dan spiritualnya.

​Pada akhirnya, misi digital Gereja bukan hanya tentang bagaimana berbicara kepada dunia, melainkan bagaimana berjalan bersama dunia—mendengarkan pengalaman manusia, menyampaikan kebenaran dengan kasih, dan menghadirkan pesan yang membawa harapan.

​𝘊𝘢𝘵𝘢𝘵𝘢𝘯: 𝘉𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘪𝘴𝘶𝘴𝘶𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘙𝘪𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘦𝘨𝘪𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘐𝘐, 𝘐𝘯𝘥𝘰-𝘓𝘦𝘴𝘵𝘦 𝘚𝘶𝘣𝘻𝘰𝘯𝘦 𝘔𝘦𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘯𝘥 𝘊𝘰𝘮𝘮𝘶𝘯𝘪𝘤𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯 𝘞𝘰𝘳𝘬𝘴𝘩𝘰𝘱 𝟤𝟢𝟤𝟨, 𝘚𝘦𝘭𝘢𝘴𝘢, 𝟤𝟤 𝘚𝘦𝘱𝘵𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳 𝟤𝟢𝟤𝟨.

​Boni Antolan

Berita PERNYATAAN SIKAP & ADVOKASI JPIC SVD PROVINSI TIMOR Kembali ke Beranda
Chat via WhatsApp