Wednesday,28 October 2026
Renungan

Renungan Jiwa P. Domi SVD: Misi Bukan Mengutus Diri Sendiri, tetapi Diutus Tuhan

P. Domi k dHEO sVd 28 October 2026 18:37 1 dibaca
Renungan Jiwa P. Domi SVD: Misi Bukan Mengutus Diri Sendiri, tetapi Diutus Tuhan

Nenuk, — Misi pelayanan bukanlah panggung untuk membangun kekuasaan, menonjolkan diri, atau mempertahankan kepentingan pribadi. Misi sejati berakar pada doa, lahir dari panggilan Tuhan, dan diwujudkan melalui pelayanan yang memulihkan sesama. Pesan kritis ini menjadi inti Renungan Jiwa P. Domi K. Dheo, SVD, Koordinator JPIC SVD Timor, dalam refleksi Pesta Santo Simon dan Santo Yudas, Rasul, Rabu (28/10/2026).

Melalui renungan bertajuk “Misi: Bukan Mengutus Diri Sendiri, tapi Diutus”, yang ditulis dari Biara St. Yoseph Nenuk, P. Domi mengajak para pelayan Gereja, khususnya komunitas religius dan pejuang keadilan, perdamaian, serta keutuhan ciptaan (JPIC), untuk menguji kembali sumber kekuatan dan motivasi dalam menjalankan misi.

Berangkat dari Injil Lukas 6:12-19 dan Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus 2:19-22, ia menegaskan bahwa pelayanan yang sejati tidak lahir dari ambisi pribadi, melainkan dari relasi yang mendalam dengan Tuhan dan kesediaan untuk berjalan bersama dalam komunitas.

“Misi itu berarti ada yang mengutus dan yang diutus. Bukan mengutus diri sendiri,” demikian penegasan utama dalam renungan tersebut.

Doa atau intrik, dua jalan yang berbeda

Mengulas Injil Lukas, P. Domi menyoroti tindakan Yesus yang pergi ke bukit dan berdoa semalam-malaman sebelum memilih dua belas rasul. Bagi dia, tindakan tersebut menunjukkan bahwa keputusan penting dalam misi harus berakar pada doa, bukan pada manuver atau kepentingan tersembunyi.

Ia membandingkan dua sumber kekuatan dalam kehidupan komunitas religius: “Gunung Doa” dan “Gunung Intrig”.

Gunung Doa melambangkan kehidupan yang bertumpu pada relasi dengan Allah, ketulusan, dan pelayanan yang menghasilkan pemulihan bagi sesama. Sebaliknya, Gunung Intrig menggambarkan perilaku yang berorientasi pada siasat, manipulasi, penyembunyian kesalahan, dan perebutan pengaruh.

Dalam refleksi yang tajam, P. Domi mengingatkan bahwa kekuasaan yang tidak berakar pada doa dan ketulusan dapat melahirkan ketakutan, membungkam korban, serta menciptakan kemenangan semu.

Karena itu, ia mengajak setiap pelayan Gereja melakukan pemeriksaan batin: apakah kekuatan yang digunakan dalam pelayanan bersumber dari relasi dengan Tuhan atau justru dari ambisi dan kepentingan diri sendiri?

Menurutnya, seseorang yang mengangkat dirinya sendiri sebagai penguasa tanpa kesadaran akan panggilan dan perutusan berisiko kehilangan makna dasar pelayanan Kristiani.

Biara harus menjadi Bait Allah, bukan sekadar bangunan

Pesan kedua dalam renungan tersebut berangkat dari Efesus 2:19-22, yang menegaskan bahwa umat beriman bukan lagi orang asing, melainkan anggota keluarga Allah yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus sebagai batu penjuru.

P. Domi menekankan bahwa identitas sebagai Bait Allah tidak cukup diwujudkan melalui bangunan megah atau kegiatan keagamaan yang tampak dari luar. Identitas itu harus nyata dalam kehidupan komunitas, keterbukaan terhadap sesama, ketulusan doa, serta tanggung jawab terhadap fasilitas dan pelayanan bersama.

“Tubuhmu adalah Bait Allah. Komunitasmu adalah Bait Allah,” tulisnya.

Ia mengkritik keadaan ketika bangunan dan fasilitas yang dibangun melalui kerja keras serta pengorbanan banyak orang justru dibiarkan terbengkalai. Dalam renungan itu, ia secara khusus menyinggung delapan kamar mandi yang disebut dibangun dari keringat para relawan, tetapi kemudian ditelantarkan.

Kritik tersebut menjadi pengingat bahwa fasilitas pelayanan bukan sekadar benda fisik, melainkan juga mencerminkan tanggung jawab, penghargaan terhadap pengorbanan sesama, dan kesungguhan dalam menjalankan misi.

Bagi P. Domi, komunitas yang sungguh menjadi Bait Allah harus terbuka bagi mereka yang membutuhkan pertolongan, memberi ruang bagi kehidupan bersama, serta menghindari sikap yang menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan komunitas.

Ia juga menguatkan mereka yang merasa lelah menyaksikan berbagai persoalan dalam kehidupan komunitas agar tidak kehilangan semangat untuk berbuat baik.

Pesannya, kesetiaan kepada Tuhan tidak semata-mata bergantung pada keadaan sebuah institusi atau megahnya bangunan, tetapi terutama pada ketulusan hati dan tindakan nyata yang menghadirkan kasih.

Melibatkan diri, bukan menonjolkan diri

Pada bagian penutup, P. Domi mengangkat tiga nilai utama dari teladan Santo Simon dan Santo Yudas, yakni melibatkan diri, mengandalkan kekuatan Tuhan, dan berjalan bersama dalam pelayanan.

Pertama, melibatkan diri, bukan menonjolkan diri. Pelayanan tidak seharusnya berpusat pada jabatan, popularitas, atau citra pribadi. Pertanyaan mendasarnya adalah bagaimana kehadiran seseorang dapat membantu memulihkan kehidupan orang lain.

Kedua, mengandalkan kekuatan Tuhan, bukan kekuasaan pribadi. Kekuatan dalam pelayanan tidak semestinya diukur dari koneksi, uang, atau dukungan pihak yang berpengaruh, melainkan dari kesetiaan pada panggilan dan kedalaman hidup doa.

Ketiga, berjalan bersama untuk melayani. Misi bukan pekerjaan seorang diri. Pelayanan membutuhkan persaudaraan, kerja sama, dan kesediaan untuk membangun komunitas, bukan menciptakan perpecahan atau mengadu domba sesama anggota.

Melalui ketiga pesan itu, P. Domi mengajak para pejuang JPIC dan seluruh pelayan Gereja untuk tetap setia pada nilai-nilai Injil, sekalipun harus menghadapi kekecewaan, konflik, atau keadaan yang menguji keteguhan hati.

Pesan bagi mereka yang merasa dilupakan

Menutup renungannya, P. Domi menyampaikan penguatan kepada mereka yang merasa tersisih atau lelah menghadapi persoalan dalam kehidupan komunitas.

Ia mengingatkan bahwa setiap orang beriman tetap merupakan anggota keluarga Allah dan bagian dari Bait Allah, sehingga tidak boleh kehilangan martabat maupun panggilan untuk melayani.

Teladan Santo Simon dan Santo Yudas menunjukkan bahwa kesetiaan tidak selalu disertai ketenaran. Kedua rasul itu dikenang Gereja bukan karena banyaknya catatan tentang kiprah mereka, melainkan karena kedudukan mereka sebagai bagian dari kelompok Dua Belas Rasul yang dipanggil Yesus.

“Terus berjalan bersama. Jangan mengutus diri sendiri. Biarkan Yesus yang mengutusmu setelah Ia berdoa semalam-malaman untukmu,” demikian pesan penutup renungan tersebut.

P. Domi berharap pelayanan yang dijalankan dengan doa, ketulusan, dan semangat kebersamaan dapat menghadirkan pemulihan bagi banyak orang, sekalipun dilakukan secara sederhana dan tanpa sorotan.

Renungan yang ditulis di Biara St. Yoseph Nenuk pada 28 Oktober 2026 itu ditutup dengan doa kepada Santo Simon dan Santo Yudas agar para pejuang kecil yang merasa dilupakan tetap setia sampai akhir.

“Karena kuasa itu bukan darimu, tapi dari Dia yang mengutusmu.”

P. Domi K. Dheo, SVD — JPIC SVD Timor, Kasih Sin-Fronteras.

Berita Renungan Kembali ke Beranda
Chat via WhatsApp