Wednesday,28 October 2026
Migran

Pater Domi SVD: Jangan Andalkan Kaisar, Selamatkan Nyawa Migran dan Masa Depan Tanah Timor!

Boni Antolan 18 October 2026 19:19 41 dibaca
Pater Domi SVD: Jangan Andalkan Kaisar, Selamatkan Nyawa Migran dan Masa Depan Tanah Timor!

ATAMBUA, RADAR PERBATASAN – Perjuangan melawan perdagangan orang, pembelaan terhadap pekerja migran, penyelamatan lahan tidur, hingga perlawanan terhadap eksploitasi sumber daya alam membutuhkan keberanian untuk berpihak pada keadilan. Namun, bagi Pater Domi Kadju Dheo, SVD, pejuang keadilan dan perdamaian (JPIC) tidak boleh menggantungkan harapan hanya pada kekuasaan, pejabat, pengusaha, atau lembaganya sendiri. “Jangan andalkan Koresh. Andalkanlah Tuhan yang memakai Koresh,” tegasnya dalam kotbah Minggu Misi di Susteran Provinsialat SSPS Timor, Atambua, Minggu (18/10/2026).

Dalam kotbah bertema “Hanya Tuhanlah yang Dapat Diandalkan”, Pater Domi mengajak para pejuang JPIC SVD Timor merefleksikan kembali makna misi Kristiani di tengah persoalan kemanusiaan yang melanda masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), terutama perdagangan orang, migrasi nonprosedural, ketimpangan ekonomi, dan ancaman terhadap lingkungan hidup.

Pater Domi SVD: Jangan Andalkan Kaisar, Selamatkan Nyawa Migran dan Masa Depan Tanah Timor! - Foto 2

Berangkat dari bacaan Kitab Suci Yesaya 45:1.4-6, 1 Tesalonika 1:1-5b, dan Matius 22:15-21, ia menegaskan bahwa kesetiaan kepada Allah harus diwujudkan melalui tindakan nyata membela kehidupan, memperjuangkan keadilan, dan memulihkan martabat manusia.

Bagi Pater Domi, tantangan para pejuang JPIC bukan sekadar memilih antara Gereja dan negara, melainkan menjaga kesetiaan kepada nilai-nilai Kerajaan Allah ketika berhadapan dengan kepentingan kekuasaan, modal, dan praktik-praktik yang merugikan masyarakat kecil.

Allah Dapat Memakai Siapa Saja untuk Membebaskan Umat-Nya

Mengulas bacaan pertama, Pater Domi menyoroti sosok Koresh, Raja Persia, yang dalam Kitab Yesaya dipakai Allah untuk membuka jalan pembebasan bagi bangsa Israel dari pembuangan Babel.

Menurutnya, kisah Koresh menegaskan bahwa karya Allah tidak terbatas pada kelompok agama, institusi, atau orang-orang yang merasa paling suci.

“Allah kita bukan Allah suku. Bukan Allah Katolik saja. Bukan Allah biara saja. Dia adalah Allah sejarah dan Tuhan jagat raya,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa Allah dapat memakai siapa saja untuk menghadirkan kebaikan, termasuk orang-orang di luar lingkungan Gereja.

Dalam konteks perjuangan JPIC Timor, prinsip tersebut menjadi dasar untuk membangun kerja sama dengan pemerintah, BP3MI, pengusaha yang beritikad baik, serta berbagai pihak yang memiliki komitmen terhadap pembebasan dan kesejahteraan masyarakat.

Pater Domi mengingatkan agar para pejuang kemanusiaan tidak merasa sebagai satu-satunya pihak yang mampu menyelamatkan masyarakat.

Tugas mereka, katanya, adalah mengenali karya Allah yang berlangsung melalui berbagai pihak, membangun kolaborasi, dan memastikan kerja sama tersebut sungguh membawa manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan pertolongan.

“Jangan alergi bekerja sama dengan pemerintah, dengan BP3MI, dengan pengusaha yang beritikad baik,” pesannya.

Namun, kerja sama itu tidak berarti menyerahkan seluruh harapan kepada manusia. Bagi Pater Domi, manusia dan lembaga hanyalah sarana, sedangkan Allah tetap menjadi sumber pengharapan utama.

Ketika Kepentingan Kekuasaan Bertabrakan dengan Keadilan

Mengangkat Injil Matius 22:15-21, Pater Domi menyoroti jawaban Yesus tentang kewajiban memberikan kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.

Ia menjelaskan bahwa umat Kristiani memiliki tanggung jawab sebagai warga negara sekaligus sebagai pengikut Kristus. Ketaatan terhadap aturan negara yang sah harus berjalan bersama tanggung jawab moral untuk memperjuangkan kebaikan bersama.

Namun, persoalan muncul ketika kebijakan, kepentingan ekonomi, atau tindakan pihak berkuasa bertentangan dengan martabat manusia dan keadilan.

Di sinilah, menurutnya, para pejuang JPIC dituntut untuk tidak kehilangan keberanian bersuara.

“Nyawa migran adalah milik Allah, bukan milik calo. Maka tidak boleh diberikan kepada Kaisar calo,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tanah dan lingkungan hidup tidak boleh diperlakukan semata-mata sebagai objek eksploitasi demi keuntungan ekonomi.

“Tanah Timor adalah milik Allah, bukan milik tambang rakus. Maka tidak boleh diberikan kepada Kaisar modal,” lanjutnya.

Pater Domi SVD: Jangan Andalkan Kaisar, Selamatkan Nyawa Migran dan Masa Depan Tanah Timor! - Foto 3

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa misi Gereja tidak berhenti pada kegiatan liturgi atau pewartaan iman secara verbal. Misi juga harus hadir dalam keberpihakan terhadap pekerja migran yang rentan dieksploitasi, masyarakat kecil yang membutuhkan keadilan, serta lingkungan hidup yang harus dijaga demi generasi mendatang.

Perdagangan Orang Bukan Sekadar Persoalan Migrasi

Dalam bagian kotbah yang ditujukan kepada para pejuang JPIC, Pater Domi menempatkan persoalan migrasi nonprosedural sebagai salah satu panggilan kemanusiaan yang mendesak.

Ia mengkritik cara pandang yang hanya melihat pekerja migran dari sisi ekonomi, sementara risiko kehilangan nyawa dan eksploitasi kerap membayangi mereka yang berangkat melalui jalur tidak resmi.

Bagi Pater Domi, setiap pekerja migran adalah manusia yang memiliki martabat dan hak untuk mendapatkan perlindungan. Karena itu, upaya pencegahan perdagangan orang tidak cukup dilakukan melalui imbauan, tetapi harus disertai pendampingan, edukasi, pengawasan perekrutan, dan kerja sama lintas lembaga.

Ia juga menghubungkan perjuangan tersebut dengan pengelolaan lahan tidur dan upaya memperkuat kehidupan ekonomi masyarakat Timor.

Menurutnya, pembelaan terhadap manusia, tanah, dan masa depan generasi muda merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari misi Kristiani.

Misi bukan hanya membaptis, tetapi juga mengembalikan milik Allah kepada Allah, menjadi salah satu pesan utama dalam kotbah tersebut.

Dengan demikian, pewartaan Injil harus menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat, terutama bagi mereka yang mengalami ketidakadilan, kemiskinan, dan kerentanan terhadap perdagangan orang.

Jangan Bergantung pada Jabatan dan Kekuasaan

Mengacu pada bacaan kedua dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Tesalonika, Pater Domi mengingatkan para pejuang JPIC bahwa panggilan untuk melayani tidak ditentukan oleh kekayaan, jabatan, atau kemampuan berbicara di depan umum.

Yang lebih penting adalah kesediaan untuk mengambil bagian dalam perjuangan membela sesama.

Ia menyebut berbagai bentuk kerja pelayanan, mulai dari advokasi kebijakan terkait pakan ternak, pendampingan pekerja migran, hingga pengolahan lahan Soverdi, sebagai bagian dari upaya menghadirkan keadilan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, ia mengingatkan agar perjuangan tersebut tidak membuat para pelayan kemanusiaan menggantungkan seluruh harapan pada pejabat, lembaga pengawasan, pengusaha, ataupun organisasi sendiri.

“Jangan andalkan Gubernur. Jangan andalkan Ombudsman. Jangan andalkan PT Hamparan. Jangan andalkan JPIC sendiri. Mereka semua adalah Koresh—alat yang bisa dipakai Allah hari ini, dan bisa diganti Allah besok,” ujarnya.

Pesan tersebut bukan ajakan untuk menolak kerja sama dengan lembaga atau pemerintah. Sebaliknya, Pater Domi menekankan pentingnya menempatkan setiap kerja sama dalam kerangka tanggung jawab moral yang lebih besar, yakni memperjuangkan kehidupan dan keadilan bagi semua orang.

Baginya, ketika perjuangan menghadapi hambatan atau kekecewaan, keyakinan kepada Allah harus menjadi kekuatan untuk terus melangkah, tanpa kehilangan keberanian mengoreksi ketidakadilan.

Misi Harus Berpihak pada Kehidupan

Menutup kotbahnya, Pater Domi kembali mengajak para pejuang JPIC untuk merenungkan pertanyaan mendasar: siapa yang sungguh menjadi andalan dalam perjuangan mereka?

Ia menegaskan bahwa tanah Timor, kehidupan para pekerja migran, dan masa depan anak-anak merupakan tanggung jawab bersama yang tidak boleh dikorbankan demi kepentingan sesaat.

Bagi para pejuang JPIC SVD Timor, Minggu Misi menjadi momentum untuk memperbarui komitmen bahwa iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk mendampingi masyarakat yang rentan, memperjuangkan kebijakan yang adil, dan menjaga kelestarian lingkungan.

Pesan Pater Domi sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan misi tidak semata-mata diukur dari besarnya lembaga atau kuatnya dukungan pejabat, melainkan dari sejauh mana perjuangan tersebut menghadirkan harapan dan memulihkan martabat manusia.

“Hanya Tuhanlah andalan hidup kita semua,” menjadi penegasan penutup kotbah Pater Domi dalam perayaan Minggu Misi di Atambua.

P. Domi Kadju Dheo, SVD, JPIC SVD Timor, Atambua, Minggu, 18 Oktober 2026.


Berita Migran Kembali ke Beranda
Chat via WhatsApp