Saturday,31 October 2026
Renungan

Hidup Adalah Kristus, Bukan Kursi Kehormatan: P. Domi K. Dheo Ajak Umat Tinggalkan Kesombongan dan Menghasilkan Buah

P. Domi k dHEO sVd 31 October 2026 06:52 15 dibaca
Hidup Adalah Kristus, Bukan Kursi Kehormatan: P. Domi K. Dheo Ajak Umat Tinggalkan Kesombongan dan Menghasilkan Buah

KUPANG – Jabatan, popularitas, pujian, dan kehormatan sering kali menjadi ukuran keberhasilan manusia. Namun, ketika seseorang lebih sibuk mengejar pengakuan daripada menghasilkan sesuatu yang berguna bagi sesama, di situlah makna pelayanan mulai kehilangan esensinya.

Pesan reflektif inilah yang diangkat P. Domi K. Dheo, SVD, Koordinator JPIC SVD Timor, dalam Renungan Jiwa, Sabtu (31/10/2026), dengan tema “Hidup Adalah Kristus, Bukan Kursi Kehormatan.”

Berangkat dari bacaan Filipi 1:18b-26 dan Injil Lukas 14:1.7-11, P. Domi mengajak umat merefleksikan kembali makna kerendahan hati, pelayanan, dan tujuan hidup sebagai pengikut Kristus.

Menurutnya, Injil tentang para tamu yang berebut tempat kehormatan dalam perjamuan bukan sekadar kisah masa lalu. Perilaku tersebut justru menggambarkan kecenderungan manusia yang masih sering ditemukan dalam kehidupan keluarga, lingkungan kerja, masyarakat, bahkan dalam komunitas Gereja dan biara.

“Ini bukan penyakit biara saja. Ini penyakit universal manusia di semua zaman dan di semua benua,” tulisnya.

Ia menyoroti bagaimana manusia terkadang berlomba mencari perhatian, mengejar pengakuan, mempertahankan posisi, bahkan menjatuhkan orang lain demi memperoleh kehormatan.

Di lingkungan kerja, misalnya, seseorang bisa berusaha mencari muka di hadapan pimpinan. Di media sosial, pelayanan dan pencapaian pribadi terkadang dipamerkan demi mendapatkan pujian. Bahkan dalam kehidupan menggereja, pelayanan yang seharusnya lahir dari ketulusan dapat berubah menjadi sarana mencari pengakuan.

Yesus, melalui Injil Lukas, memberikan pesan yang sangat jelas: “Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”

Bagi P. Domi, kerendahan hati bukanlah strategi untuk memperoleh pujian atau kehormatan yang lebih besar. Kerendahan hati merupakan sikap batin yang membebaskan manusia dari ketergantungan terhadap penilaian dunia.

Hidup Bukan Jabatan, Melainkan Kristus

Menggali pesan bacaan pertama, P. Domi mengajak umat belajar dari Rasul Paulus yang mengungkapkan keyakinan mendalam: “Bagiku, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”

Pernyataan Paulus tersebut menjadi jawaban atas kecenderungan manusia yang menjadikan jabatan, uang, popularitas, dan penghormatan sebagai pusat kehidupan.

Jika hidup hanya bergantung pada jabatan, seseorang akan kehilangan arah ketika jabatan itu berakhir. Jika hidup bergantung pada pujian, seseorang akan mudah hancur ketika menghadapi kritik atau penghinaan.

Sebaliknya, ketika Kristus menjadi pusat kehidupan, ukuran keberhasilan bukan lagi seberapa besar penghormatan yang diterima, melainkan seberapa banyak kebaikan dan buah pelayanan yang dihasilkan bagi sesama.

“Tujuan kerja saya bukan agar saya kelihatan hebat, tetapi agar Kristus dikenal. Ukuran sukses saya bukan tepuk tangan manusia, tetapi apakah iman umat bertumbuh,” demikian refleksi P. Domi.

Ia menegaskan bahwa hidup sebagai pengikut Kristus harus diwujudkan melalui pekerjaan dan pelayanan yang menghasilkan buah nyata, bukan sekadar membangun kesan di hadapan orang lain.

Untuk memperjelas pesan tersebut, ia menghadirkan contoh sederhana dari kehidupan sehari-hari.

Seorang ibu yang bangun sejak dini hari, bekerja keras mencari nafkah, dan berjuang menyekolahkan anak-anaknya mungkin tidak pernah menerima penghargaan. Namun, perjuangannya menghasilkan buah kehidupan.

Demikian pula petugas kebersihan rumah sakit yang bekerja tanpa sorotan, tetapi melalui pekerjaannya membantu menjaga keselamatan pasien. Atau seorang suster yang setia mengerjakan tugas-tugas sederhana di komunitas, tanpa harus disebut namanya dalam laporan maupun menerima pujian.

Bagi P. Domi, pekerjaan sederhana yang dilakukan dengan kasih dan ketulusan dapat menjadi wujud nyata kehidupan yang berpusat pada Kristus.

Berani Meninggalkan Kursi Kehormatan

Pada bagian akhir refleksinya, P. Domi mengajak umat melakukan perubahan nyata melalui sebuah ungkapan simbolis: “Pindah dari kursi depan ke dapur.”

Ajakan ini bukan sekadar persoalan memilih tempat duduk, melainkan kesediaan meninggalkan ego, menanggalkan ambisi pribadi, dan mengambil bagian dalam pelayanan tanpa menuntut penghormatan.

Ia mengajak setiap orang untuk belajar lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, melakukan kebaikan tanpa harus memamerkannya, menghormati mereka yang lebih muda, serta tetap bersukacita meskipun tidak memperoleh posisi terhormat.

Menurutnya, justru dalam kesederhanaan dan tempat-tempat yang tidak terlihat, manusia dapat menemukan makna pelayanan yang sesungguhnya.

Yesus sendiri memberikan teladan kerendahan hati dengan datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Karena itu, pengikut Kristus tidak seharusnya menjadikan pelayanan sebagai panggung untuk membangun popularitas dan kebesaran diri.

“Pesta ini bukan tentang siapa paling hebat. Pesta ini tentang Bapa yang mengundang semua orang berdosa untuk makan bersama,” tulisnya.

Menutup renungannya, P. Domi mengajak umat memohon kekuatan Tuhan agar mampu meninggalkan kehausan akan penghormatan duniawi dan belajar melayani dengan tulus.

Ia menekankan bahwa kerendahan hati sejati bukanlah merendahkan diri agar dipuji sebagai orang rendah hati, melainkan melupakan kepentingan diri karena terlalu sibuk menghasilkan buah bagi kehidupan sesama.

Pesan ini menjadi refleksi penting bagi siapa saja, terutama mereka yang mengemban jabatan, tanggung jawab kepemimpinan, dan pelayanan publik: jangan habiskan hidup untuk memperebutkan kursi kehormatan. Gunakanlah hidup untuk menghasilkan buah bagi sesama.

Sebab, pada akhirnya, yang dikenang bukanlah tingginya kursi yang pernah diduduki seseorang, melainkan kebaikan dan manfaat yang ditinggalkannya bagi kehidupan orang lain.

Renungan Jiwa ini ditulis P. Domi K. Dheo, SVD, dari Soverdi Oebufu, Sabtu, 31 Oktober 2026, dalam semangat pelayanan JPIC SVD Timor – Kasih Sin-Fronteras.

Berita Renungan Kembali ke Beranda
Chat via WhatsApp