Penanggulangan Bencana
Gempa Flores Mengancam Kuliah Anak Korban, JPIC SVD dan Unwira Bergerak, 144 Mahasiswa Unwira Dapat Bantuan
3 Foto
KUPANG — Gempa bumi yang melanda Flores meninggalkan dampak yang tidak berhenti pada rumah-rumah rusak dan kebutuhan logistik.
Di Kota Kupang, sejumlah mahasiswa Unwira ikut menghadapi tekanan karena keluarga mereka di kampung terdampak bencana.
Di tengah situasi itu, JPIC SVD Provinsi Timor bersama Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang mengambil langkah solidaritas agar kondisi keluarga di daerah bencana tidak semakin membebani keberlanjutan pendidikan anak-anak mereka.
Sebanyak 144 mahasiswa Unwira yang telah melalui proses verifikasi ditetapkan sebagai penerima bantuan solidaritas gempa Flores. Bantuan disalurkan di Gedung Rektorat Unwira Penfui, Kupang, Jumat (18/9/2026).
Yang menarik, bantuan tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan sehari-hari. Biaya kuliah juga menjadi perhatian.
Yayasan Pendidikan Katolik Arnoldus Kupang (Yapenkar) bersama Unwira menyiapkan Rp100 juta untuk bantuan pembayaran SKS atau uang kuliah mahasiswa terdampak.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dari respons terhadap dampak bencana yang dirasakan mahasiswa secara tidak langsung.
Ketika keluarga di Flores menghadapi situasi sulit, kemampuan membiayai pendidikan anak di Kota Kupang juga dapat ikut tertekan.
Selain bantuan pendidikan, sebanyak 147 paket sembako disalurkan untuk membantu kebutuhan hidup mahasiswa.
Dukungan solidaritas datang dari berbagai pihak, antara lain JPIC SVD Provinsi Timor, SMA St. Arnoldus Janssen Kupang, SMA Negeri 5 Kota Kupang, Radio Tirilolok Kupang serta para donatur dan mitra lainnya.
Bukan Karena Mereka Kaya
Rektor Unwira, P. Dr. Stefanus Lio, SVD, S.Fil., MA, menegaskan bahwa gerakan tersebut lahir dari semangat kebersamaan.
"Ini bukan orang-orang kaya yang membantu. Ini antara kita, dari kita, oleh kita, dan untuk kita, sekaligus untuk solidaritas."
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa solidaritas terhadap korban bencana tidak selalu harus datang dari pihak yang memiliki sumber daya besar. Dalam situasi bencana, dukungan dapat tumbuh dari komunitas pendidikan dan masyarakat sendiri.
Anggota JPIC SVD Provinsi Timor, Br. Yohanes Arman, SVD, S.H., M.H., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi.
Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban mahasiswa terdampak sehingga mereka tetap dapat melanjutkan perkuliahan di tengah kondisi pascabencana.
Solidaritas Bergerak dari Sekolah
Gerakan solidaritas itu juga memperlihatkan keterlibatan kalangan pelajar.
SMA Negeri 5 Kupang melalui Radio Tirilolok menyumbangkan berbagai kebutuhan, antara lain mi instan, sabun mandi, sabun cuci, pakaian layak pakai, beras, sabun cuci piring, kopi dan gula, minyak goreng serta pasta gigi.
Keterlibatan SMA Negeri 5 Kupang dengan kepala sekolah nya Ibu Veronika Wawo begitu positif. Selain menyumbang dana, juga memberikan bntuan logistik lainnya. Sekolah melatih dan mendidik siswa-siswinya untuk peduli dan solider dengan sesama yang menderita merupakan ungkapan nyata dari model pendidikan yang memanusiakan manusia muda.
Sementara SMA St. Arnoldus Janssen Kupang menghimpun bantuan berupa makanan, minuman, perlengkapan mandi, minyak goreng, popok, tisu, pembalut, biskuit, beras, gula, air mineral dan pakaian.
Bantuan-bantuan tersebut kemudian menjadi bagian dari paket solidaritas bagi mahasiswa terdampak.
Penyaluran bantuan dihadiri Rektor Unwira P. Dr. Stefanus Lio, SVD, Wakil Rektor III Unwira Dr. Yohanes Nurak Siwa, S.Pd., M.Pd., Br. Yohanes Arman, SVD, P. Stery Pantas, SVD, Kepala BAAK Unwira Yohanes Pemandi Lian, S.Pd., M.Hum., serta para dosen, pegawai dan mahasiswa Unwira.
Bagi JPIC SVD Provinsi Timor, gerakan tersebut merupakan perwujudan semangat Justice, Peace, and Integrity of Creation—solidaritas dan kepedulian terhadap mereka yang sedang menghadapi penderitaan.
Gempa di Flores akhirnya memperlihatkan satu sisi lain dari bencana: dampaknya dapat menjalar hingga ke ruang-ruang kuliah di Kota Kupang.
Karena itu, menjaga mahasiswa agar tetap dapat berkuliah menjadi bagian dari solidaritas kemanusiaan pascabencana.
Bantuan tersebut mungkin tidak menghapus seluruh beban yang dihadapi keluarga terdampak. Namun bagi mahasiswa yang sedang berjuang mempertahankan pendidikannya, dukungan itu menjadi pesan sederhana bahwa mereka tidak berjalan sendirian.