Politeknik Pertanian Negeri Kupang Petakan Lahan SVD Timor Untuk Intergrated Farming
Tim ahli dari Politeknik Pertanian Negeri Kupang (Politani Kupang) telah melaksanakan kegiatan Survei Pemetaan Spasial dan Pengambilan Sampel Tanah di lahan milik Provinsial SVD Timor.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, dari tanggal 18 hingga 20 September 2026, ini berfokus pada lahan di Nenuk, Haikelen, dan Fatutomak, Kabupaten Belu.
Survei ini bertujuan untuk mengembangkan lahan tidur menjadi kawasan Integrated Farming berbasis Agrosilvopastural.
Kegiatan ini menghasilkan data inventarisasi aset dan analisis biofisik yang akurat sebagai dasar penyusunan tata ruang lanskap terpadu.
Metodologi dan Karakteristik Lahan
Dalam pelaksanaannya, tim yang terdiri dari ahli lahan, operator drone dan GIS, serta ahli bor tanah ini menggunakan metode pemetaan udara (drone) untuk menghasilkan orthophoto dan DEM, tracking GPS darat untuk verifikasi batas, serta pengambilan sampel tanah komposit di kedalaman yang berbeda.
Berdasarkan hasil survei, lahan dibagi menjadi tiga blok berdasarkan karakteristik topografi dan zona pengembangannya:
Blok Nenuk (Kemiringan 0-8%): Memiliki topografi datar hingga landai. Zona ini diproyeksikan sebagai Zona Pertanian Intensif. Komoditas yang direncanakan meliputi jagung, sorgum, pisang, dan cabai, dengan dukungan infrastruktur sumur bor, embung, serta instalasi pengolahan kompos (Bokasih) yang menerapkan prinsip Zero Waste Farming dan ekonomi sirkular.
Blok Haikelen (Kemiringan 8-15%): Bertopografi landai hingga bergelombang. Zona ini diarahkan sebagai Zona Peternakan & Bank Pakan. Pengembangan akan fokus pada kebun pakan ternak (HMT) seperti Lamtoro, Rumput Odot, dan King Grass, serta kandang terkontrol dengan sistem konservasi air silt pit.
Blok Fatutomak (Kemiringan >15%): Memiliki topografi berbukit hingga curam. Zona ini ditetapkan sebagai Zona Kehutanan & Konservasi. Penanaman tanaman kayu keras seperti Cendana, Mahoni, dan Beringin akan dilakukan, disertai konservasi tanah dan air melalui teras bangku dan strip vetiver.
Anggaran dan Rencana Tindak Lanjut
Untuk mendukung operasional survei selama tiga hari di Kabupaten Belu, total estimasi biaya operasional yang dibutuhkan adalah sebesar Rp 60.281.500.
Rincian biaya tersebut mencakup honorarium personil, sewa peralatan pemetaan (drone, GPS RTK, bor tanah), mobilisasi, logistik, hingga biaya pengujian laboratorium tanah untuk 8 sampel (analisis NPK, C-Organik, dan KTK) serta pengolahan data spasial.
Ke depan, data koordinat GPS dan foto udara yang telah diperoleh akan diproses lebih lanjut dalam perangkat lunak GIS untuk menghasilkan Peta Layout Zonasi Akhir Integrated Farming. Hasil analisis laboratorium tanah juga akan menjadi panduan dalam penyusunan strategi pemupukan organik dan pakan ternak yang berkelanjutan.
Sumber : Tim Ahli Politeknik Pertanian Negeri Kupang