Pater Domi SVD: Jangan Menimbun Harta, Jadilah Kaya dengan Berbagi
Renungan JPIC Timor: Kekayaan Sejati Bukan Belis, Gengsi, atau Rumah Mewah, Melainkan Kepedulian terhadap Sesama
NENUK, RADAR PERBATASAN – Kekayaan sejati tidak diukur dari banyaknya uang, besarnya belis, megahnya rumah, atau tingginya gengsi, tetapi dari kesediaan seseorang berbagi dan membuat hidup orang lain lebih bernilai. Pesan tajam inilah yang disampaikan Pater Domi Kadju Dheo, SVD, dalam Renungan Jiwa Pejuang JPIC Timor untuk Senin, 19 Oktober 2026, di Biara St. Joseph Nenuk.
Berangkat dari bacaan Injil Lukas 12:13-21 tentang orang kaya yang bodoh karena menimbun harta bagi dirinya sendiri, Pater Domi mengajak para pejuang Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) untuk mengkritisi pola hidup yang mengutamakan kepentingan pribadi, mengejar gengsi, dan mengabaikan penderitaan sesama.
Menurutnya, kisah orang kaya dalam Injil bukan sekadar cerita tentang seseorang yang memiliki banyak harta. Kisah itu merupakan peringatan terhadap keserakahan yang membuat manusia kehilangan kepekaan sosial dan menjadi miskin di hadapan Allah.
“Orang kaya yang sebenarnya adalah dia yang tahu berbagi dalam hidup ini. Dengan berbagi, hidup seseorang menjadi bernilai dan berarti. Itulah yang membahagiakan hidupnya,” demikian inti pesan Pater Domi dalam renungannya.
Ia mengaitkan pesan Injil tersebut dengan realitas kehidupan masyarakat Timor yang kerap mengukur harga diri melalui belis, pesta, dan kemegahan rumah. Padahal, menurut refleksi tersebut, kekayaan material tidak otomatis membuat seseorang kaya dalam arti kehidupan rohani dan kemanusiaan.
Berbagi di Tengah Kemiskinan dan Keserakahan
Pater Domi juga mengangkat pengalaman hidup masyarakat kecil sebagai cermin kekayaan yang sesungguhnya. Ia mencontohkan mama-mama di Sadi yang, meskipun memiliki keterbatasan ekonomi, tetap bersedia berbagi jagung dan air dengan sesama.
Bagi Pater Domi, tindakan sederhana itu menunjukkan bahwa kepedulian tidak harus menunggu seseorang menjadi kaya. Berbagi justru menjadi tanda bahwa manusia masih memiliki solidaritas dan rasa cukup di tengah keterbatasan.
Sebaliknya, ia mengkritik pola hidup serakah yang membuat seseorang terus merasa kekurangan meskipun telah memiliki banyak harta.
Pesan tersebut menjadi sangat relevan dalam perjuangan melawan perdagangan orang (human trafficking). Ketika keuntungan pribadi ditempatkan di atas martabat manusia, orang-orang rentan berisiko diperlakukan sebagai komoditas, bukan sebagai pribadi yang memiliki hak dan masa depan.
Dalam konteks ini, Pater Domi mengingatkan bahwa kekayaan yang dibangun dengan mengorbankan sesama tidak dapat menjadi ukuran keberhasilan hidup di hadapan Allah.
Pejuang JPIC Harus Berbagi Keberanian dan Pengetahuan
Bagi Pater Domi, ajakan berbagi tidak berhenti pada pemberian materi. Para pejuang JPIC justru memiliki tanggung jawab untuk membagikan keberanian, pengetahuan, waktu, dan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan perlindungan.
Ia menguraikan empat bentuk berbagi yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, berbagi keberanian, terutama dengan mendampingi perempuan yang takut melaporkan kekerasan dalam rumah tangga.
Kedua, berbagi pengetahuan, termasuk memberikan pemahaman tentang bahaya bujuk rayu perekrut tenaga kerja ilegal dan perlindungan hukum bagi korban perdagangan orang. Ia secara khusus menyebut Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
Ketiga, berbagi waktu, dengan hadir dan mendengarkan korban yang kembali ke rumah dalam keadaan terluka, tanpa menghakimi pengalaman mereka.
Keempat, berbagi kebahagiaan dan rasa syukur, melalui tindakan sederhana seperti senyuman, perhatian, dan dukungan moral bagi sesama.
Pater Domi menegaskan bahwa perjuangan kemanusiaan tidak boleh berhenti pada kegiatan administratif atau dokumentasi semata. Laporan dan foto kegiatan bukanlah tujuan akhir pelayanan JPIC. Ukuran keberhasilan yang lebih mendasar adalah perubahan nyata dalam kehidupan orang-orang yang didampingi.
Keselamatan Menuntut Perubahan Hidup
Mengacu pada bacaan pertama, Efesus 2:1-10, Pater Domi mengingatkan bahwa manusia dihidupkan kembali oleh kasih karunia Allah. Keselamatan merupakan anugerah cuma-cuma yang tidak dapat dibeli dengan uang atau harta.
Namun, anugerah tersebut menuntut tanggung jawab untuk meninggalkan pola hidup lama yang mementingkan diri sendiri.
Ia mengajak para pejuang JPIC untuk tidak hanya berbicara tentang kasih, keadilan, dan solidaritas, tetapi juga mewujudkannya dalam tindakan konkret. Kepedulian kepada korban kekerasan, pendampingan terhadap calon pekerja migran yang rentan ditipu, serta kehadiran bagi keluarga korban merupakan bagian dari panggilan kemanusiaan tersebut.
Renungan itu mencapai puncaknya melalui pertanyaan Yesus kepada orang kaya yang bodoh: ketika hidup berakhir, untuk siapakah harta yang telah ditimbun itu?
Bagi para pejuang JPIC, pertanyaan tersebut menjadi bahan pemeriksaan diri. Apakah yang telah dikumpulkan hanya berupa laporan dan dokumentasi kegiatan, ataukah ada kehidupan sesama yang sungguh-sungguh menjadi lebih baik karena pelayanan yang diberikan?
Pesan Pater Domi sederhana, tetapi menantang: jangan menunggu memiliki banyak untuk mulai berbagi. Keberanian untuk mendampingi, pengetahuan untuk melindungi, dan waktu untuk mendengarkan dapat menjadi kekayaan yang berarti bagi mereka yang sedang menghadapi penderitaan.
Pada akhirnya, kekayaan sejati bukanlah seberapa banyak yang berhasil ditimbun, melainkan seberapa banyak kehidupan yang disentuh melalui kepedulian.
P. Domi Kadju Dheo, SVD, merupakan Koordinator JPIC SVD Timor. Renungan ini disiapkan untuk para pejuang JPIC pada Senin, 19 Oktober 2026, di Biara St. Joseph Nenuk.