Wednesday, 28 October 2026
Renungan Harian
Renungan Harian
Efesus 1:11-14

Untuk Para Pejuang Kemanusiaan, Pelatih Baru Anti-Trafficking

Friday, 16 October 2026 P. Domi K Dheo, SVD 27 dibaca
RENUNGAN JIWA
PEKAN BIASA XXVIII
Jumat, 16 Oktober 2026 |
Untuk Para Pejuang Kemanusiaan, Pelatih Baru Anti-Trafficking

Bacaan I: Efesus 1:11-14
_Dalam Kristus, kita dipanggil untuk ambil bagian dalam rencana Allah. Inilah saatnya kita menjadi pujian bagi kemuliaan-Nya. Allah telah menebus kita menjadi milik-Nya._

Bacaan Injil: Lukas 12:1-7
_Jangan takut memberi kesaksian. Jangan takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Dialah yang memutuskan hidup atau mati._
---
Bacaan hari ini seperti ditulis khusus untuk 35 pelatih baru yang besok akan kembali ke basis, kembali ke kampung-kampung tempat calo tinggal.

I. DUA PESAN YANG SALING MENGUNCI - MENJADI MILIK-NYA DAN MENJADI SAKSI-NYA

Dari Efesus: Kita adalah Milik Kepunyaan-Nya.

Paulus berkata: kita bukan milik calo. Kita bukan milik rentenir. Kita bukan milik patriarki. Kita bukan milik bos di Malaysia.

Sejak baptisan, sejak rahmat pertama kita menerima nafas, kita telah ditebus. Kita diberi meterai: Roh Kudus. Meterai itu artinya: kita adalah milik Allah, bukan barang dagangan.

Ini adalah dasar teologi anti-trafficking yang paling radikal. Trafficking adalah dosa karena ia mencoba mencuri milik Allah. Ia mencoba menjual manusia yang sudah ditebus Allah menjadi milik-Nya. Maka melawan trafficking adalah mempertahankan hak milik Allah atas manusia.

Ketika kita membela korban, kita tidak sedang berbelas kasihan. Kita sedang berkata: "Jangan sentuh dia, dia milik Allah."

Dan karena kita milik Allah, kita punya jaminan perlindungan. Bukan jaminan bahwa tubuh kita tidak akan lecet, tapi jaminan bahwa Jiwa kita tidak akan pernah bisa dirampas. Calo bisa merampas KTP kita, bisa merampas gaji kita, bisa bahkan membunuh tubuh kita, tapi ia tidak pernah bisa merampas meterai Roh Kudus yang menjadikan kita anak-anak Allah.

Dari Lukas: Jangan Takut Menjadi Saksi-Nya.

Yesus di Injil hari ini bicara sangat keras kepada murid-murid-Nya yang sedang ketakutan. Zaman itu murid-murid takut pada orang Farisi, takut pada tentara Romawi yang bisa menangkap dan membunuh.

Hari ini Yesus bicara kepada kita yang takut pada calo, takut pada oknum aparat, takut pada bos penampungan, takut pada keluarga besar yang marah jika kita bongkar praktik belis mahal.

Yesus berkata: _"Jangan takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi."_

Mengapa kita tidak boleh takut?

Karena yang kita saksikan bukan diri kita. Yang kita nyatakan adalah Allah sendiri. Ketika kita di desa berkata: "Jangan berangkat lewat calo, ini tidak aman," kita bukan sedang melawan manusia, kita sedang memberi kesaksian bahwa Allah mencintai manusia itu dan ingin ia hidup.

Calo hanya bisa membunuh tubuh. Ia bisa mengancam: "Jika kamu bongkar saya, saya bakar rumahmu." Ia bisa memukul, ia bisa membunuh. Tapi Yesus berkata: setelah itu ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Tapi Allah, yang kita bela, adalah Dia yang memutuskan hidup atau mati, anugerah atau hukuman. Dia yang berkuasa atas jiwa. Dia yang menghitung bahkan rambut di kepala kita - artinya tidak ada satu pun air mata korban trafficking yang luput dari hitungan-Nya.

II. JAMINAN PERLINDUNGAN BAGI SEMUA PEJUANG KEMANUSIAAN

Inilah kabar gembira untuk 35 pelatih baru yang takut pulang ke basis:

1. Jaminan Identitas: Kamu Bukan Relawan, Kamu Milik Allah.
Pejuang kemanusiaan sering lelah karena merasa sendirian, merasa hanya relawan kecil. Efesus hari ini mengangkatmu: kamu adalah bagian dari Rencana Allah. Kamu bukan sedang ikut proyek LSM. Kamu sedang ambil bagian dalam rencana penebusan Allah atas dunia yang terluka. Ketika kamu lelah, ingat meterai di dahimu: kamu milik-Nya, bukan milik proyek.

2. Jaminan Perlindungan Jiwa: Tubuh Boleh Terluka, Jiwa Tidak Akan Mati.
Ini bukan janji bahwa kita tidak akan diancam. Romo Paskalis di Batam sendiri sering diancam. Banysknpejuanh kemanusiaan sering diteror.

Jaminannya adalah: Jika karena membela korban trafficking kamu harus kehilangan pekerjaan, dikucilkan keluarga, bahkan tubuhmu dilukai - itu adalah batas maksimal yang bisa dilakukan penjahat. Mereka tidak bisa membunuh Puri Batinmu. Mereka tidak bisa membunuh kebenaran yang kamu saksikan. Jiwa yang telah menjadi pujian bagi kemuliaan Allah, tidak akan mati.

Sejarah gereja Timor membuktikan: banyak pejuang kemanusiaan dibunuh tubuhnya, tapi kesaksiannya hidup 100 tahun.

3. Jaminan Keberanian: Harus Jujur dan Terbuka, dengan Kata dan Tindakan.
Berkat rahmat pembaptisan, kita dipanggil bukan hanya untuk berdoa di dalam kapel, tapi untuk bersaksi di luar.

Menjadi saksi Kristus anti-trafficking berarti:
- Dengan kata: Berani bilang di depan umat, di mimbar, di rapat adat: "Ini salah, ini perdagangan manusia," meski yang melakukan adalah donatur gereja.
- Dengan tindakan: Berani turun ke penampungan, berani simpan korban di pastoran/susteran, berani antar korban ke polisi, meski berisiko.

Kita harus berani terhadap apa pun dan siapa pun, karena kita telah mengalami kasih Tuhan terlebih dahulu. Kita tidak bersaksi karena kita hebat, kita bersaksi karena kita sudah diangkat menjadi anak-anak-Nya.

III. PENUTUP UNTUK PELATIH BARU

Pesan untuk dibawa pulang:

Dimana dan kapan saja kita pasti bertemu mafia yang lebih berkuasa dari kita. Kita bisa bertemu oknum yang dapat membunuh tubuh.

Jangan takut.

Bukan karena kita kuat, tapi karena kita adalah milik kepunyaan Allah. Roh Kudus adalah meterai jaminan hidup kita.

Dan ingatlah: bahkan burung pipit yang dijual dua ekor seduit saja tidak dilupakan Allah. Apalagi kita, apalagi anak perempuan yang sedang kita bela. Rambut kepala kita pun terhitung.

Jika Allah menjaga burung pipit, Ia akan menjaga pejuang kemanusiaan yang menjaga burung pipit itu.

Pergilah, bersaksilah. Jangan takut.

Susteran SSPS Atambua, Jumat 16 Oktober 2026

P. Domi K. Dheo, SVD

JPIC SVD Timor

Tentang Renungan Harian JPIC SVD Timor

Renungan Harian JPIC SVD Timor merupakan bagian tak terpisahkan dari pelayanan rohani kami kepada umat dan masyarakat. Melalui renungan ini, kami ingin menghadirkan Firman Tuhan yang hidup dan relevan dengan konteks kehidupan sehari-hari, memberikan kekuatan, penghiburan, dan pencerahan bagi siapa saja yang membacanya.

Setiap renungan ditulis dengan penuh doa dan refleksi, mengambil inspirasi dari Kitab Suci, ajaran Gereja, serta pengalaman nyata pelayanan kami di tengah masyarakat. Kami percaya bahwa Firman Tuhan adalah pelita bagi kaki dan terang bagi jalan kita (Mazmur 119:105), yang menuntun kita dalam setiap langkah kehidupan.

"Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." — Mazmur 119:105

Renungan harian ini kami sajikan sebagai sarana pembinaan iman, refleksi diri, dan penguatan spiritual bagi umat Katolik dan siapa saja yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan. Kami mengundang Anda untuk menjadikan renungan ini sebagai bagian dari rutinitas rohani harian, membacanya dengan hati yang terbuka, dan merenungkan pesan yang terkandung di dalamnya.

Semoga setiap renungan yang kami sajikan menjadi berkat bagi Anda, memperkuat iman, dan menuntun Anda untuk semakin mengenal kasih Kristus yang menyelamatkan. Tuhan memberkati kita semua.

Chat WhatsApp