Wednesday,28 October 2026
Renungan

Renungan Jiwa: Saat Pejuang Kemanusiaan Lelah, Kasih Harus Tetap Menyala

Boni Antolan 27 October 2026 06:21 26 dibaca
Renungan Jiwa: Saat Pejuang Kemanusiaan Lelah, Kasih Harus Tetap Menyala

P. Domi K. Dheo, SVD: Jangan Biarkan Kekecewaan Memadamkan Terang Kemanusiaan

KUPANG – Radar Perbatasan  Ketika ketidakadilan seolah menang, kebaikan tidak dihargai, dan para pejuang kemanusiaan mulai lelah menghadapi penderitaan sesama, kasih justru diuji untuk tetap menyala. Pesan inilah yang ditegaskan P. Domi K. Dheo, SVD, dalam Renungan Jiwa: Untukmu Jiwa Pejuang edisi Minggu Biasa XXX, 26 Oktober 2026, dari Soverdi Oebufu.

Dalam renungannya yang ditujukan kepada para pejuang kemanusiaan Kasih Sin-Fronteras, P. Domi mengajak setiap orang yang berjuang membela martabat manusia agar tidak membiarkan kekecewaan, fitnah, dan ketidakadilan mengubah hati mereka menjadi serupa dengan pihak yang melakukan kejahatan.

Berangkat dari bacaan Efesus 4:32–5:8 dan Lukas 13:10–17, ia menegaskan bahwa panggilan seorang murid Kristus bukan sekadar menjalankan aturan keagamaan, melainkan menghadirkan kasih yang nyata, terutama bagi mereka yang menderita dan terpinggirkan.

“Jangan balas licik dengan licik. Jangan balas jahat dengan jahat. Jika kamu lakukan itu, kamu sudah kalah, kamu sudah menjadi seperti mereka,” demikian pesan reflektif yang disampaikan dalam renungan tersebut.

Kasih yang berkorban, bukan kesalehan yang berhenti pada penampilan

Mengulas surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, P. Domi menempatkan Yesus sebagai teladan utama kehidupan kristiani. Kasih Yesus diwujudkan melalui pengorbanan diri, sedangkan kehidupan murid-Nya ditandai dengan rasa syukur, bukan caci maki.

Ia membandingkan dua cara hidup yang bertolak belakang: kesalehan yang hanya tampak dari luar dan kasih yang sungguh-sungguh diwujudkan dalam tindakan.

Menurutnya, seseorang tidak dapat mengukur kesucian hanya dari penampilan, jabatan, aturan, atau laporan yang terlihat rapi. Ukuran yang lebih mendasar ialah ketulusan hati dan kesediaan berkorban demi sesama.

“Allah mencium bau hati, bukan bau jubah,” demikian salah satu ungkapan tajam dalam renungan itu.

P. Domi mengingatkan para pejuang kemanusiaan agar tidak membiarkan kegelapan masuk ke dalam hati mereka. Ketika menghadapi perlakuan tidak adil, mereka tetap dipanggil menjadi terang, bukan memperbanyak kebencian.

“Tugasmu bukan untuk membuka topeng mereka. Tugasmu adalah tetap menjadi terang. Terang tidak perlu berteriak untuk mengalahkan gelap. Terang hanya perlu tetap menyala,” tulisnya.

Yesus mendahulukan manusia daripada aturan

Pesan kedua berangkat dari kisah Yesus menyembuhkan seorang perempuan yang telah 18 tahun menderita karena tubuhnya bungkuk. Peristiwa itu memunculkan kemarahan kepala rumah ibadat karena penyembuhan dilakukan pada hari Sabat.

Bagi P. Domi, kisah tersebut memperlihatkan pertentangan antara aturan yang dipahami secara kaku dan belas kasih yang membebaskan manusia dari penderitaan.

Ia menyoroti sikap kepala rumah ibadat yang lebih mempersoalkan pelaksanaan aturan Sabat daripada pembebasan seorang perempuan yang telah lama menderita.

Yesus, sebaliknya, menempatkan martabat dan keselamatan manusia sebagai perhatian utama. Ia menegaskan bahwa perempuan itu, sebagai keturunan Abraham, layak dibebaskan dari belenggu penderitaannya.

Dari kisah Injil tersebut, P. Domi mengajak para pejuang kemanusiaan melihat wajah perempuan yang menderita dalam berbagai persoalan kehidupan masa kini.

Mereka adalah para ibu korban kekerasan dalam rumah tangga, anak muda yang terjerat utang dan judi online, serta masyarakat desa yang masih berhadapan dengan persoalan rumah layak huni dan keterbatasan akses air bersih.

Bahkan, para pejuang yang mulai kehilangan semangat karena berulang kali menyaksikan ketidakadilan juga membutuhkan penguatan dan pemulihan.

“Kalian adalah tangan Yesus hari ini,” tegasnya.

Pesan itu menjadi ajakan agar kasih tidak berhenti sebagai doa dan kata-kata, tetapi hadir melalui tindakan nyata untuk mengangkat martabat manusia.

Ketika pejuang kemanusiaan mulai lelah

Dalam bagian yang secara khusus ditujukan kepada para pejuang kemanusiaan, P. Domi mengakui bahwa perjuangan untuk berbagi kasih tidak selalu berlangsung dalam situasi yang mudah.

Ada kalanya mereka tetap melayani ketika sumber daya terbatas, menghadapi penolakan, menerima fitnah, atau menyaksikan orang-orang yang membutuhkan pertolongan justru terabaikan.

Situasi tersebut dapat melahirkan pertanyaan mendasar: untuk apa terus berjuang jika ketidakadilan seolah tidak pernah berakhir?

Menanggapi pergulatan itu, P. Domi mengajak para pejuang untuk tidak kehilangan kepekaan terhadap penderitaan sesama.

Ia mengingatkan bahwa kemampuan menangis melihat penderitaan orang lain, kegelisahan ketika menyaksikan ketidakadilan, dan kesediaan untuk terus berbagi merupakan tanda bahwa hati masih hidup dalam kasih.

“Bersyukur karena kamu masih bisa menangis melihat penderitaan orang lain,” tulisnya, seraya mengajak para pejuang tetap memelihara kepedulian di tengah situasi yang melelahkan.

Ia juga mengingatkan bahwa tugas para pejuang bukan mengambil alih peran sebagai hakim, melainkan menjaga komitmen untuk menghadirkan kasih secara konsisten.

Tetap menjadi terang di tengah kegelapan

Menutup renungannya, P. Domi mengajak para pejuang kemanusiaan membuka hati terhadap sentuhan penyembuhan Yesus. Bukan hanya perempuan yang disembuhkan dalam Injil, tetapi juga setiap orang yang mengalami kelelahan, luka batin, dan kekecewaan dalam perjuangan.

Ia menegaskan bahwa kasih tidak boleh bergantung pada keadaan ideal atau menunggu semua orang berubah terlebih dahulu.

“Teruslah berbagi kasih. Dalam situasi apa pun. Tanpa menunggu biara menjadi suci,” tulisnya.

Bagi P. Domi, kasih yang diwujudkan dalam keberpihakan kepada mereka yang menderita merupakan panggilan mendasar kehidupan Kristiani. Kasih itulah yang menjaga Gereja tetap setia pada semangat Kristus.

Renungan Untukmu Jiwa Pejuang ini menjadi pengingat bahwa perjuangan kemanusiaan bukan hanya tentang menghadapi ketidakadilan di luar diri, tetapi juga tentang menjaga hati agar tidak kehilangan kasih ketika berhadapan dengan kekecewaan.

Sebab, ketika kegelapan seolah menang, tugas para pejuang bukan ikut menjadi gelap, melainkan tetap menyalakan terang.

Soverdi Oebufu, 26 Oktober 2026

P. Domi K. Dheo, SVD
JPIC SVD Timor – Kasih Sin-Fronteras


Berita Renungan Kembali ke Beranda
Chat via WhatsApp