Wednesday,28 October 2026
JPIC SVD Timor

JPIC SVD Timor: Kemiskinan Bukan Takdir, Kuasa Allah Harus Melawan Korupsi dan Ketidakpedulian

Boni Antolan 09 October 2026 18:16 52 dibaca
JPIC SVD Timor: Kemiskinan Bukan Takdir, Kuasa Allah Harus Melawan Korupsi dan Ketidakpedulian

OEBUFU, KUPANG – Kemiskinan, perdagangan manusia, korupsi, dan pembiaran terhadap potensi lahan produktif menjadi tantangan kemanusiaan yang tidak boleh diterima sebagai takdir. Perjuangan melawannya membutuhkan lebih dari sekadar program dan wacana: iman yang hidup, keberanian menyuarakan kebenaran, serta tindakan nyata bersama masyarakat.

Pesan keras ini disampaikan P. Domi K. Dheo, SVD, dalam refleksi "𝙍𝙚𝙣𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙅𝙞𝙬𝙖 – 𝙐𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙈𝙚𝙣𝙚𝙜𝙪𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙋𝙖𝙧𝙖 𝙋𝙚𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜 𝙅𝙋𝙄𝘾", Jumat (9/10/2026), di Soverdi Oebufu. Berangkat dari bacaan Galatia 3:7-14 dan Injil Lukas 11:15-26, ia mengangkat tema "Dengan Kuasa Apa Kita Melawan?" sebagai pertanyaan mendasar bagi para pejuang Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) SVD Timor.

Dalam refleksinya, P. Domi mengajak para pejuang kemanusiaan melihat persoalan kemiskinan di Timor bukan semata-mata melalui angka statistik, tetapi dengan mata iman yang mampu membaca persoalan struktural dan mendorong perubahan.

Ia menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari lahan produktif yang belum dimanfaatkan secara optimal, air yang melimpah pada musim hujan tetapi menjadi persoalan ketika kemarau, hingga kerentanan masyarakat terhadap perdagangan manusia melalui jalur migrasi nonprosedural.

"Ini bukan takdir. Ini bukan karena orang Timor malas," demikian penegasan dalam refleksi tersebut.

P. Domi mengaitkan persoalan-persoalan itu dengan apa yang disebutnya sebagai lingkaran kuasa yang memiskinkan, termasuk korupsi, pembiaran, ketidakpedulian, dan ketakutan untuk bersuara menghadapi ketidakadilan.

𝗜𝗺𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗞𝗲𝗸𝘂𝗮𝘁𝗮𝗻 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗕𝗲𝗿𝘁𝗶𝗻𝗱𝗮𝗸

Merujuk Injil Lukas 11:15-26, P. Domi menegaskan bahwa perjuangan melawan berbagai bentuk ketidakadilan harus berakar pada kuasa Allah, bukan semata-mata mengandalkan kekuatan manusia, jaringan, data, ataupun dana program.

Ia menggarisbawahi perkataan Yesus dalam Lukas 11:20: "𝙏𝙚𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝘼𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙪𝙨𝙞𝙧 𝙨𝙚𝙩𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙪𝙖𝙨𝙖 𝘼𝙡𝙡𝙖𝙝, 𝙢𝙖𝙠𝙖 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙣𝙜𝙜𝙪𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙆𝙚𝙧𝙖𝙟𝙖𝙖𝙣 𝘼𝙡𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖𝙢𝙪."

Bagi para pejuang JPIC, pesan tersebut menjadi panggilan untuk menghadirkan iman dalam tindakan konkret. Iman bukan sekadar perasaan atau pengakuan, melainkan keberanian untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih bermartabat, sekalipun perubahan belum sepenuhnya terlihat.

Refleksi itu juga menghubungkan pesan Injil dengan kisah Abraham dalam bacaan pertama. Abraham menjadi berkat bagi bangsa-bangsa karena imannya. Demikian pula, para pejuang kemanusiaan dipanggil menjadikan iman sebagai dasar keberanian untuk membela masyarakat yang rentan dan memperjuangkan kehidupan yang lebih sejahtera.

𝗝𝗣𝗜𝗖 𝗗𝗶𝘁𝗮𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗲𝗿𝘀𝘂𝗮𝗿𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗕𝗲𝗸𝗲𝗿𝗷𝗮 𝗕𝗲𝗿𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗥𝗮𝗸𝘆𝗮𝘁

P. Domi menggarisbawahi dua bentuk tindakan yang perlu diwujudkan para pejuang JPIC dalam menghadirkan Kerajaan Allah.

Pertama, keberanian menyampaikan suara profetik. JPIC tidak boleh memilih diam ketika berhadapan dengan korupsi, pembiaran terhadap lahan produktif, perdagangan manusia, dan berbagai bentuk ketidakadilan. Suara kenabian harus berpihak pada kebenaran, martabat manusia, serta keberlanjutan ciptaan.

Kedua, membangun tindakan pemberdayaan yang berkelanjutan. Menurut refleksi tersebut, program kemanusiaan tidak boleh berhenti pada bantuan sesaat, pembagian bibit, atau kegiatan seremonial. Pemberdayaan harus disertai pendampingan dan keterlibatan masyarakat agar hasilnya tidak hilang setelah program berakhir.

Peringatan ini merujuk pada Injil Lukas 11:24-26 tentang rumah yang telah dibersihkan, tetapi dibiarkan kosong sehingga kembali dikuasai oleh roh jahat. Dalam konteks pemberdayaan, pesan tersebut menjadi ajakan agar setiap upaya mengatasi kemiskinan diikuti langkah nyata untuk membangun kemandirian masyarakat.

Lahan yang belum produktif, misalnya, perlu ditindaklanjuti dengan pengolahan, penanaman, penyiraman, dan kerja bersama warga. Dengan demikian, pemberdayaan tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi menjadi proses yang menghasilkan perubahan dalam kehidupan keluarga.

𝗨𝗸𝘂𝗿𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗯𝗲𝗿𝗵𝗮𝘀𝗶𝗹𝗮𝗻 𝗔𝗱𝗮 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗣𝗲𝗿𝘂𝗯𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗛𝗶𝗱𝘂𝗽

Dalam refleksi tersebut, P. Domi menekankan bahwa keberhasilan misi kemanusiaan tidak semestinya hanya diukur dari laporan program, melainkan dari perubahan nyata yang dialami masyarakat.

Ia menggambarkan perubahan itu melalui contoh konkret: keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan pangan dari hasil ternaknya sendiri, lahan tidur di kawasan Nenuk-Atambua yang mulai menghijau, serta anak-anak pekerja migran yang dapat terhindar dari bahaya perdagangan manusia.

Gambaran tersebut menegaskan orientasi perjuangan JPIC: membangun kemandirian, melindungi martabat manusia, dan merawat ciptaan melalui kerja yang nyata serta berkelanjutan.

𝗣𝗲𝗻𝗲𝗴𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗴𝗶 𝗣𝗲𝗷𝘂𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗟𝗲𝗹𝗮𝗵

Menutup refleksinya, P. Domi menyampaikan peneguhan kepada para pejuang JPIC yang mungkin merasa lelah menghadapi besarnya persoalan kemanusiaan. Ia mengingatkan bahwa Tuhan tidak menuntut seseorang menyelesaikan seluruh persoalan sekaligus. Yang diperlukan ialah iman yang tetap hidup dan kesediaan mengambil langkah nyata, dimulai dari lingkungan dan tanggung jawab masing-masing.

Ajakan untuk mengusir "setan ketidakpedulian" dari dalam diri sendiri menjadi inti peneguhan tersebut. Perubahan sosial, menurut pesan refleksi itu, juga menuntut pembaruan sikap pribadi: berani peduli, bersuara terhadap ketidakadilan, dan terlibat dalam perjuangan bersama masyarakat.

Bagi JPIC SVD Timor, pesan Jumat itu menjadi panggilan untuk menyatukan iman dan aksi. Perjuangan kemanusiaan tidak cukup berhenti pada doa, seminar, atau laporan kegiatan. Iman harus menjelma menjadi keberanian membela yang rentan, kerja nyata memberdayakan masyarakat, serta komitmen menghadirkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan.

"Jangan takut. Kita berperang dengan Kuasa Allah," menjadi pesan penutup yang meneguhkan para pejuang untuk terus melangkah di tengah tantangan.

Berita JPIC SVD Timor Kembali ke Beranda
Chat via WhatsApp