KASIH YANG NYATA, BUKAN SEKADAR KEPEDULIAN: PEJUANG JPIC SVD TIMOR DIAJAK MENJADI SESAMA BAGI YANG TERLUKA
OEBUFU โ Injil hari ini tidak berhenti sebagai teori tentang kasih. Injil justru menjadi cermin bagi setiap pejuang keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan (JPIC): ketika berhadapan dengan manusia yang terluka dan membutuhkan pertolongan, apakah kita berhenti untuk menjadi sesama, atau memilih berjalan melewati mereka?
โPertanyaan ahli Taurat kepada Yesus, ๐บ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐?", sesungguhnya membuka persoalan yang lebih dalam. Di balik pertanyaan itu terdapat kecenderungan untuk membuat batas: siapa yang wajib dikasihi dan siapa yang boleh diabaikan.
โYesus tidak memberikan definisi panjang. Ia menjawab dengan kisah orang Samaria yang baik hati sekaligus membalikkan pertanyaan tersebut.
โBukan lagi, "Siapa yang pantas menjadi sesamaku?"
โMelainkan, "Bagi siapakah aku dipanggil untuk menjadi sesama?"
โ๐๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฒ๐ป๐๐ถ ๐๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ ๐ฆ๐ถ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐ฆ๐ฒ๐๐ฎ๐บ๐ฎ๐ธ๐
โBagi pejuang JPIC, perubahan pertanyaan itu merupakan sebuah pertobatan.
โSesama bukan hanya orang Katolik. Bukan hanya orang Belu. Bukan hanya anggota kelompok tani, satu suku, satu komunitas, satu kelompok kepentingan atau satu lingkungan dengan kita.
Sesama adalah siapa pun yang terluka dan Tuhan tempatkan di jalan hidup kita.
โMereka bisa berupa perempuan migran yang ditipu agen ilegal, anak yang tidak mendapatkan susu yang layak, petani yang lahannya tidak produktif karena keterbatasan alat, korban perdagangan orang yang terlantar, bahkan orang yang kita anggap sebagai musuh ketika pada saat tertentu ia membutuhkan pertolongan.
โDi situlah kasih diuji.
โSt. Fransiskus yang dipestakan sehari sebelumnya telah memberikan teladan konkret. Ia tidak terlebih dahulu bertanya apakah orang kusta pantas dipeluk. Ia melihat manusia yang menderita, lalu bergerak dengan belas kasih.
โDari jiwa yang berbelas kasih lahir keberanian untuk mendekat, menyentuh dan memeluk mereka yang sakit serta menderita.
โKarena itu, pejuang JPIC tidak boleh hidup dengan daftar tentang siapa yang pantas ditolong dan siapa yang tidak.
โPertanyaan yang seharusnya dibawa setiap pagi adalah:
โ"Hari ini, bagi siapakah saya dapat menjadi sesama?"
โ๐๐ฎ๐๐ถ๐ต ๐ฆ๐ฒ๐ท๐ฎ๐๐ถ ๐ฆ๐ฒ๐น๐ฎ๐น๐ ๐ ๐ฒ๐บ๐ถ๐น๐ถ๐ธ๐ถ ๐๐ฎ๐ฟ๐ด๐ฎ
โInilah yang membedakan pejuang dengan penonton.
โImam dan Lewi dalam kisah Injil juga melihat orang yang terluka. Mereka mungkin saja memiliki rasa iba. Namun, mereka memilih melewati dari seberang jalan.
โOrang Samaria mengambil jalan berbeda.
โIa tidak berhenti pada rasa kasihan. Ia bertindak.
โIa membalut luka. Ia menyentuh darah.
โIa menuangkan minyak dan anggur. Ia memberikan apa yang dimilikinya untuk merawat luka.
โIa menaikkan orang yang terluka ke atas keledainya sendiri. Ia rela mengorbankan kenyamanannya.
โIa membawanya ke penginapan. Ia mengubah rutenya demi keselamatan orang lain.
โIa mengeluarkan uang dari kantongnya.
โBahkan ia masih memberikan komitmen agar orang tersebut dirawat.
โPesannya jelas: kasih selalu mempunyai harga.
โKadang harganya adalah waktu. Kadang tenaga. Kadang uang. Kadang kenyamanan. Bahkan terkadang nama baik dan kepentingan pribadi harus dipertaruhkan.
โJika kasih hanya diberikan ketika tidak membutuhkan pengorbanan, maka kasih itu masih sangat terbatas.
โ๐๐ฃ๐๐ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐๐ถ๐ต ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ ๐ฒ๐ป๐๐ฒ๐ป๐๐๐ต ๐ง๐ฎ๐ป๐ฎ๐ต
โDalam konteks perjuangan JPIC SVD Timor, kasih yang nyata juga harus hadir dalam kehidupan masyarakat dan keutuhan ciptaan.
Launching lahan seluas 171 hektare menjadi salah satu gambaran bahwa kepedulian tidak cukup hanya diucapkan.
โAda proses panjang di belakangnya: terik matahari, negosiasi, survei bersama Politani, tracking drone, pengambilan sampel tanah, hingga kerja sama dengan desa.
โSemua itu menunjukkan bahwa kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan membutuhkan keberanian untuk turun langsung.
โLahan yang tidur tidak cukup hanya dikasihani.
โIa harus disentuh, diolah dan dipulihkan agar kembali menghasilkan.
โDi sinilah semangat orang Samaria menemukan relevansinya: melihat luka, mendekat, menyentuh dan melakukan sesuatu.
โ๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ง๐ถ๐ป๐ด๐ด๐ฎ๐น๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ป๐ท๐ถ๐น ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐๐น๐ถ
โBacaan pertama dari Surat Paulus kepada jemaat di Galatia juga memberikan peringatan keras.
โPaulus merasa heran karena jemaat begitu cepat berbalik dari Injil Kristus kepada "injil lain".
โBagi pejuang JPIC hari ini, godaan terhadap "injil lain" dapat muncul dalam berbagai bentuk.
โ"๐ฌ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฝ๐ฒ๐ป๐๐ถ๐ป๐ด ๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ ๐๐ฒ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ."
โ"๐๐ฎ๐น๐ฎ๐ ๐๐ฎ๐ท๐ฎ ๐ธ๐ฎ๐น๐ฎ๐ ๐ฑ๐ถ๐๐ฎ๐ธ๐ถ๐๐ถ."
โ"๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ฒ๐ฑ๐๐น๐ถ ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐น๐ฎ๐ถ๐ป, ๐๐ฟ๐๐ ๐๐ฎ๐ท๐ฎ ๐ธ๐ผ๐บ๐๐ป๐ถ๐๐ฎ๐ ๐๐ฒ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ."
โ"๐ฌ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฝ๐ฒ๐ป๐๐ถ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐๐ฎ ๐๐ป๐๐๐ป๐ด."
โ"๐ฌ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฝ๐ฒ๐ป๐๐ถ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐๐ฎ ๐บ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ป๐ด."
โSemua sikap itu bertentangan dengan semangat Injil Kristus.
โKristus mengajarkan pengampunan ketika dunia mengajarkan balas dendam.
โKristus mengajarkan pelayanan ketika dunia mendorong egoisme.
โKristus mengajarkan kepedulian ketika dunia membiarkan penderitaan berlangsung di depan mata.
โKarena itu, sabda Yesus kepada ahli Taurat menjadi penegasan sekaligus perintah:
โ"Pergilah, dan perbuatlah demikian!"
โ๐๐บ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ฟ๐๐ ๐ ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ง๐ถ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป
โPejuang JPIC tidak dipanggil hanya untuk mengetahui siapa yang pantas disebut sesama.
โKita dipanggil menjadi sesama.
โIman bukan hanya sesuatu yang kita ketahui, tetapi sesuatu yang harus kita hidupi melalui tindakan nyata.
Kasih dimulai ketika kita bersedia melihat penderitaan, berhenti sejenak, mendekat, lalu berani membayar harga untuk menolong.
โHari ini, di jalan dari Nenuk ke Oebufu, dari Atambua ke Motaain, ada manusia yang mungkin sedang tergeletak dalam berbagai bentuk penderitaan.
โPertanyaannya sederhana:
โApakah kita akan lewat dari seberang jalan?
โAtaukah kita akan berhenti dan menjadi sesama?
โKarena pada akhirnya, Injil bukan sekadar meminta kita untuk berbicara tentang kasih.
โInjil meminta kita melakukan kasih.
โPergilah, dan perbuatlah demikian!
โTuhan memberkati.
โSoverdi Oebufu, Senin, 5 Oktober 2026
โP. Domi K. Dheo, SVD
JPIC SVD Timor