Thursday,17 September 2026
Renungan

BERLUTUT DI TANGGA SALIB, BERDIRI UNTUK SESAMA

p.dOMi k dHEO, sVd 15 September 2026 07:29 25 dibaca
BERLUTUT DI TANGGA SALIB, BERDIRI UNTUK SESAMA
Pesta Salib Suci | 14 September 2026 1. KISAH SALIB SUCI & SCALA SANTA Hari ini Gereja merayakan Pesta Salib Suci. Bukan merayakan kayu, tapi merayakan Cinta yang rela tersalib. Di kota Roma ada Scala Santa - Tangga Suci. 28 anak tangga dari Istana Pontius Pilatus yang menurut tradisi pernah dinaiki Yesus saat diadili. Peziarah datang dari seluruh dunia. Mereka tidak berjalan. Mereka berlutut, menaiki satu-satu tangga dengan doa dan tobat. Tujuan: sampai ke Kapel Relikui Salib Suci di ujung atas. Di sana ada serpihan Kayu Salib yang dibawa St. Helena. Mengapa harus berlutut? Karena Salib bukan untuk dipandang dari jauh. Salib harus didekati dengan kerendahan hati, penyesalan, dan cinta. Setiap lutut yang sakit di tangga itu adalah bahasa tubuh: "Tuhan, aku bertobat. Aku mau memikul salibku bersamamu." 2. TANPA SALIB, TIDAK ADA MISI. TANPA CORPUS, TIDAK ADA PENEBUSAN Tuhan Yesus sebagai Model Hidup - Guru Hidup kita. Tanpa SALIB maka DIA tidak ada misi-tujuan datang ke dunia. Ia tidak datang untuk jadi raja dengan mahkota emas. Ia datang untuk jadi Raja dengan mahkota duri. Misinya: menebus dengan kasih yang total. Tetapi ingat: SALIB TANPA CORPUS - TUBUH TUHAN YESUS, tidak ada nilai penebusan. Salib kosong hanya jadi simbol penderitaan. Salib dengan Tubuh Kristus adalah simbol penderitaan yang ditebus oleh Cinta. Itu bedanya. Allah tidak hanya menunjukkan luka, tapi Dia sendiri yang masuk ke dalam luka itu. 3. TANDA SALIB: IDENTITAS KATOLIK DAN PANGGILAN JPIC Dari tanda Salib inilah yang membedakan seorang Katolik dengan orang lain di dunia. Setiap kali kita membuat tanda salib: Dalam Nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus - kita sedang berkata 3 hal: 1. KEPALA: "Aku berpikir seperti Kristus" - berpikir adil, berpikir untuk yang kecil. 2. DADA: "Aku mengasihi seperti Kristus" - hati yang tidak membalas, tapi mengampuni. "Hati yang di-penuhi kasih akan lebih mudah mengampuni dari pada membalas" - St. Thomas Aquinas 3. BAHU KANAN - KIRI: "Aku memeluk seperti Kristus" - memeluk yang tertolak, yang migran, yang ditindas. "Kasih sejati tidak mencari keuntungan diri sendiri, tetapi kebahagiaan orang yang di-kasihi" - St. Thomas Aquinas 4. RELEVANSI DENGAN KETERLIBATAN JPIC: DARI TANGGA SUCI KE TANAH AIR Di Roma orang berlutut di Scala Santa. Di Timor, di Malaka, di Flores hari ini, kita dipanggil berlutut di "Scala Santa" yang lain: 1. Tangga Pengungsian: Berlutut mendengarkan tangis ibu-ibu korban gempa Flores yang rumahnya rata dengan tanah. 136 meninggal, 1.776 luka, 179.037 mengungsi. 2. Tangga Bandara: Berlutut mendoakan anak-anak Malaka yang naik pesawat secara non-prosedural ke Malaysia. 21 jenazah sudah pulang tahun ini. 3. Tangga Pengadilan: Berlutut bersama petani yang tanahnya dirampas, bersama buruh yang gajinya dipotong. 4. Tangga Lahan Rusak: Berlutut bersama bumi yang dianiaya karena keserakahan. Berlutut bukan berarti lemah. Berlutut di hadapan Salib memberi kita tenaga untuk berdiri dan berjalan membela martabat manusia. Salib mengajarkan JPIC 3 hal: 1. SOLIDARITAS: Yesus tidak turun dari Salib. Ia tetap di sana bersama manusia. JPIC juga harus "tinggal" bersama rakyat yang menderita, bukan hanya datang saat ada proyek. 2. PENEBUSAN STRUKTURAL: Yesus mati karena melawan sistem ketidakadilan. Salib adalah kritik terhadap kekuasaan, keserakahan, dan kekerasan. Tugas JPIC: bongkar struktur dosa yang membuat orang miskin dan migran. 3. HARAPAN: Hari Jumat Agung pasti ada Minggu Paskah. Salib selalu mengarah ke Kebangkitan. Kerja JPIC melelahkan, tapi tidak sia-sia. Karena di ujung salib ada terang. PENUTUP Setiap kali kita membuat tanda salib, ingat: Kita sedang menandatangani diri kita untuk menjadi salib bagi orang lain. Menjadi tempat orang bersandar. Menjadi jalan pulang bagi yang tersesat. Menjadi suara bagi yang bisu. Bulan Kitab Suci ini St. Hieronimus mengingatkan: "Ignorantia Scripturarum, ignorantia Christi est". Dan Kristus yang kita kenal di Kitab Suci adalah Kristus yang tersalib. Mari kita naik "Scala Santa" kita hari ini. Berlutut dalam doa, lalu berdiri dalam aksi. Karena Tanpa Salib tidak ada JPIC. Tanpa Corpus, tidak ada kasih yang menyelamatkan. "Tuhan, ajarilah kami mencintai Salib-Mu, supaya melalui Salib itu kami belajar mencintai sesama-Mu." Amin. 🙏 JakarTa, 14 September 2016
Berita Renungan Kembali ke Beranda
Chat via WhatsApp